kisah ini merupakan pengalaman nyata yang aku alami beberapa bulan yang lalu. Kejadian ini bermula dari jejaring sosial. Melalui jejaring sosial, aku mulai bertegur sapa kembali dengan teman SMP yang sudah 14 tahun lamanya lost contact. Ya, pada waktu aku berumur 13 tahun tepatnya kelas 1 SMP, Ibuku meninggal karena terkena penyakit kanker Rahim. Setelah kepergian Ibu, akhirnya aku berpindah kota ikut Ayah. Aku hilang kontak dengan semua teman masa kecil di kota tersebut. Apalagi zaman di tahun 90an, handphone belum semarak seperti saat ini. Dulu kami bertegur sapa hanya melalui surat dan paling mewah melalui telepon rumah.
Pada saat itu catatan alamat dan nomor telepon teman-teman juga hilang entah di mana. Alhasil semua kontak mereka hilang tak berbekas sampai akhirnya di usia aku ke-27 tahun saat ini baru bisa berjumpa lagi dengan teman-teman semasa kecil itu melalui facebook. Suatu ketika aku ada undangan sebagai pengapit di acara pernikahan sahabatku di kota Semarang. Ya, di tempat itulah kota kelahiranku. Kota yang menyimpan sejuta kenangan masa kecil aku dengan Ibuku. Kotaku bertumbuh sampai akhirnya aku berusia 13 tahun dan Ibu aku meninggal sehingga mengharuskanku meninggalkan kota tercinta itu dan pergi untuk tinggal bersama Ayah.
Karena adanya undangan pernikahan, aku berencana untuk mengadakan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman semasa SMP. Dari jejaring sosial itulah akhirnya kami mulai berbincang kembali dan mulai rutin berkomunikasi. Inilah awal mula aku berhubungan kembali dengan laki-laki yang ternyata dulu sewaktu SMP pernah memendam perasaannya terhadapku, begitu juga aku. Setelah meninggalnya Ibu, tanpa banyak kata aku langsung diboyong Ayah meninggalkan kota Semarang. Waktu terus berlalu dengan cepat. Banyak hal yang sudah aku lewati sampai sekarang usiaku 27 tahun. Bertemu lagi dengannya membuat hati ini berasa sedih. Sempat aku bertanya pada Tuhan, apa maksud semua ini, apa maksud kami bertemu kembali di saat yang bisa dikatakan tidak tepat.
Yang semakin membuat sedih ternyata perasaan yang aku rasakan sewaktu aku masih SMP itu masih ada dan terasa getarannya dan begitu juga perasaannya padaku. Masalah yang kami hadapi saat ini adalah tali pernikahan. Yaa.. Kami bertemu kembali setelah sama-sama sudah menikah dan sudah ada di jalan yang Tuhan tetapkan buat kami masing-masing. Aku dan dia terbilang nekat. Kami tetap menjalankan hubungan di belakang pasangan sah kami masing-masing. Kami berkomunikasi setiap hari walaupun kami beda kota. Kami selalu telepon setiap ada waktu senggang untuk saling bercerita dan bercanda. Kami selayaknya seperti dua anak muda yang sedang kasmaran tanpa memikirkan status masing-masing.
Sampai pada akhirnya, kami berencana untuk bertemu kembali tapi tanpa jalur reuni seperti pertama kali kami bertemu. Kali ini kami berencana bertemu hanya berdua. Aku sadar ini hal yang salah, terlebih aku sudah memiliki suami dan dia sudah memiliki istri dan seorang putri kecil yang belum genap setahun usianya. Saat itu kami gelap mata dan tidak memikirkan apa pun di sekeliling kami. Kami mengabaikan pasangan masing-masing dan kami sampai berencana mencari cara agar dapat bercerai dengan pasangan kami saat ini agar dapat bersatu untuk menikah. Hubungan kami kurang lebih selama 6 bulan ini sudah teramat jauh.
Kami sekiranya 2 kali bertemu dalam 6 bulan ini dan check in di kota asing agar tidak bertemu dengan orang yang sekiranya kenal dengan kami. Kami sampai membohongi pasangan kami dengan alasan ada pekerjaan agar kami dapat bertemu. Saat itu kami seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta sehingga logika sudah tidak jalan lagi dalam otak kami. Hubungan kami sudah jauh sekali, sampai kami juga melakukan hubungan badan yang sepatutnya itu merupakan dosa besar. Saat itu kami marah kepada sang pencipta, kenapa kami dipertemukan di waktu yang salah. Di waktu yang kami sudah terikat dalam pernikahan.
Sampai suatu ketika, kekasih gelap aku yang merupakan teman SMP-ku itu sebut saja namanya Ram bercerita padaku bahwa Ayahnya berselingkuh dengan Istri orang. Dan Ayahnya berniat untuk menikahi wanita selingkuhannya ini walaupun wanita ini sudah bersuami. Ayahnya semacam tergila-gila dengan wanita ini. Ibu Ram sudah meninggal kurang lebih 1 tahun yang lalu. Ram sampai akhirnya bertengkar dengan Ayahnya perihal masalah ini. Ram menentang keras hubungan Ayahnya, yang menjadi selingkuhan wanita itu. Sampai Ram membawa Ayahnya untuk didoakan oleh satu pemuka agama menurut kepercayaannya. Sampai pada akhirnya, aku dan Ram merasa ini karma dari Tuhan. Ram menentang Ayah Ram berselingkuh dan menghujatnya sampai bertengkar. Tetapi apa yang kami lakukan sebenarnya sama dengan yang Ayah Ram lakukan saat ini.
Setelah kejadian itu, Ram dan dua kakaknya bersikeras meninggalkan Ayah mereka. Mereka tidak mau berhubungan lagi dengan Ayah kalau Ayah masih berhubungan dengan wanita bersuami itu. Tetapi Ayahnya tetap bersikeras mau menikahi wanita itu walau di poliandri sekalipun ia bersedia. Sebegitu cintanya terhadap wanita itu. Ya, aku mengambil hikmah dari semua ini, inilah teguran dari Tuhan untukku dan Ram. Tuhan menunjukkan secara langsung perselingkuhan di mata kami. Ram sampai menentang dengan keras hubungan Ayahnya.
Saat ini Ram dan kedua kakaknya pun sampai memutuskan hubungan dengan Ayahnya dengan harapan Ayahnya dapat memutuskan hubungan dengan wanita tersebut. Kami seperti ditampar dengan semua teguran ini. Ram teramat syok karena Ibunya baru saja meninggal setahun yang lalu, tetapi Ayahnya bisa secepat ini mau menikah lagi. Ya, setelah kejadian ini aku dan Ram memutuskan untuk menyudahi hubungan terlarang kami. Kami saling menghapus kontak di handphone dan sudah tidak berhubungan sedikit pun. Aku ingin memperbaiki diriku dan menebus semua kesalahanku kepada suami. Setelah perselingkuhan ini, aku berjanji terhadap diriku sendiri bahwa tidak akan pernah mengulangi hal ini lagi.
Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca. Sudah seharusnya kita bersyukur dengan apa pun yang kita miliki saat ini karena jalan yang telah ditetapkan Tuhan tidak mungkin salah. Jodoh dari Tuhan tidak mungkin tertukar dengan jodoh milik orang lain. Kisah ini merupakan kisah nyata yang aku alami. Jika ada salah penulisan kata, aku mohon maaf. Semoga kisah ini dapat menginsipirasi banyak pihak. Bersyukurlah dengan pasangan yang diberikan Tuhan pada kita saat ini. Karena itu pasti yang terbaik.
- sumber :lalat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar